7 Gunung Tertinggi di Dunia untuk Pendaki Profesional
25 Juli 2025 629x Adventure
Kalau kamu mikir Mount Everest adalah satu-satunya gunung tertinggi di dunia yang bisa didaki, well… itu nggak sepenuhnya salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Ternyata, ada beberapa gunung lain yang tingginya di atas 8.000 meter dan bisa ditaklukkan—tentu bukan buat sembarang orang. Artikel ini bakal ngebahas 7 gunung tertinggi di dunia yang bisa (dan biasa) didaki oleh para pendaki profesional. Bukan cuma tinggi, tapi juga ekstrem dan penuh tantangan.
Sebelum lanjut, penting buat tahu bahwa nggak semua gunung tinggi itu bisa didaki. Salah satu contohnya adalah Gangkhar Puensum di Bhutan, yang sampai sekarang masih belum pernah dijamah manusia karena larangan dari pemerintah Bhutan demi menghormati kepercayaan lokal. Jadi, artikel ini fokus ke gunung tertinggi yang bisa didaki, bukan sekadar paling tinggi aja.
1. Gunung Everest (8.848 m – Nepal/Tibet)

Photo from cdn.britannica.com
Dikenal sebagai atap dunia, Everest adalah gunung tertinggi di dunia dan juga paling populer di kalangan pendaki elite. Tapi jangan salah, meski “banyak yang naik”, Everest bukan tempat main-main. Dibutuhkan latihan fisik ekstrem, kemampuan bertahan di suhu minus, dan aklimatisasi serius. Jalur paling umum adalah dari Nepal lewat Base Camp, tapi tetap harus pakai guide profesional dan izin resmi dari otoritas setempat.
Tantangan mendaki Everest bukan cuma fisik, tapi juga mental. Ada zona “death zone” di atas 8.000 meter di mana oksigen tipis banget dan tubuh mulai melemah drastis.
2. K2 (8.611 m – Pakistan/China)

Photo from natgeofe.com
K2 adalah gunung tertinggi kedua di dunia, tapi sebagian besar pendaki sepakat kalau gunung ini jauh lebih susah ditaklukkan daripada Everest. Cuaca di sini bisa berubah dalam hitungan menit dan jalurnya lebih teknikal. Pantas kalau gunung ini dijuluki The Savage Mountain. Tingkat kematiannya pun tergolong tinggi, jadi hanya pendaki profesional dengan pengalaman tinggi yang boleh coba.
3. Kangchenjunga (8.586 m – India/Nepal)

Photo from tranquilkilimanjaro.com
Kangchenjunga adalah salah satu gunung 8000 meter yang indah tapi juga berbahaya. Jalur pendakiannya masih cukup liar dan minim fasilitas. Banyak pendaki bilang pemandangan di sini lebih tenang dan sacred dibanding Everest, karena masyarakat lokal menganggap puncaknya sebagai tempat suci. Jadi, banyak ekspedisi bahkan berhenti beberapa meter sebelum benar-benar menginjak puncak, demi menghormati kepercayaan setempat.
Untuk kamu yang belum siap mendaki 7 gunung ini, bisa gabung dulu dan cobain open trip pendakian ke Kilimanjaro yang praktis, aman dan nyaman. Cocok juga buat kamu yang pengen explore negara baru tanpa ribet. Kalau belum siap ke luar negeri, ada juga pilihan open trip domestik ke destinasi-destinasi keren di Indonesia. Bisa klik link ini dan dapetin promo menariknya.
4. Lhotse (8.516 m – Nepal/Tibet)

Photo from api.luxuryholidaynepal.com/
Kalau kamu ngikutin jalur Everest sampai Camp 3, kamu bakal ketemu jalur menuju Lhotse. Gunung ini berbagi rute awal dengan Everest tapi punya medan akhir yang lebih teknikal. Pendakian Lhotse sering jadi “bonus target” bagi yang udah pengalaman di Himalaya, karena secara teknis menantang tapi nggak sepopuler Everest.
5. Makalu (8.485 m – Nepal/Tibet)

Photo from sevensummittreks.com
Makalu punya bentuk piramida yang khas dan rute pendakian yang tajam. Satu hal yang bikin Makalu sulit adalah ketidakstabilan cuaca dan rute sempit di ketinggian. Banyak ekspedisi butuh waktu lebih lama karena harus nunggu momen cuaca membaik. Gunung ini sering disebut sebagai salah satu gunung 8000 meter yang paling teknikal.
6. Cho Oyu (8.188 m – Nepal/Tibet)

Photo from media.himalayanrecreation.com
Nah, kalau kamu cari gunung tertinggi di dunia yang relatif lebih ramah untuk pemula dalam dunia pendakian ekstrem, Cho Oyu bisa jadi pilihan. Rute pendakiannya lebih landai dibanding lainnya dan biasanya jadi batu loncatan buat pendaki yang pengen lanjut ke Everest. Tapi jangan anggap enteng ya, karena tetap aja kamu berada di zona ekstrim yang bisa bikin tubuhmu drop kalau nggak siap.
7. Manaslu (8.163 m – Nepal)

Photo from www.mountainkingdoms.com
Terakhir, ada Manaslu, yang kini makin populer karena jumlah pendaki Everest membludak. Gunung ini jadi alternatif yang lebih sepi tapi tetap punya ketinggian di atas 8.000 meter. Banyak operator pendakian sekarang menawarkan ekspedisi Manaslu sebagai opsi latihan sebelum ke Everest atau K2. Tantangannya? Longsor salju dan medan yang sering berubah.
Pendakian Ekstrem Nggak Buat Sembarangan
Kalau kamu baru suka naik gunung di ketinggian 3.000-an meter, belum waktunya langsung ke Himalaya. Gunung-gunung ini hanya cocok untuk pendaki profesional yang punya jam terbang tinggi, pemahaman soal survival, dan support dari tim medis dan logistik. Semua pendakian gunung tertinggi ini harus lewat izin resmi, kadang perlu sertifikasi medis, dan yang pasti: kamu butuh mental baja.
Tips Aman Mendaki Gunung Tertinggi
- Latihan fisik rutin. Nggak cukup kuat aja, kamu juga harus tahan banting di suhu ekstrem.
- Aklimatisasi. Proses ini wajib biar tubuh kamu nggak “kaget” di zona oksigen tipis.
- Perizinan lengkap. Setiap negara punya aturan ketat soal pendakian gunung tinggi.
- Pakai jasa guide lokal. Mereka lebih tahu kondisi medan dan cuaca setempat.
Mendaki Gunung Tinggi Bukan Sekadar Soal Nyali
Mendaki gunung tertinggi di dunia bukan sekadar mimpi atau buat konten Instagram. Ini tentang menghargai alam, memahami risiko, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dari Everest yang ikonik, sampai Manaslu yang underrated, semuanya menyimpan keindahan dan bahaya dalam satu paket.
Kalau kamu punya mimpi mendaki salah satu dari mereka, mulailah dari sekarang. Latihan fisik, baca banyak referensi dari sumber tepercaya seperti Himalayan Database, National Geographic, atau jurnal ekspedisi. Ingat, puncak itu bukan tujuan utama—selamat kembali ke rumah dengan selamat adalah pencapaian yang sesungguhnya.
Mungkin Anda tertarik membaca artikel berikut ini.
Harbin saat Musim Dingin, Winter Wonderland di Asia
Kalau ngomongin liburan musim dingin, banyak orang langsung kepikiran Jepang, Korea, atau Swiss. Padahal ada satu kota di Tiongkok yang vibes-nya beda banget: Harbin saat musim dingin. Kota ini ada di Heilongjiang, wilayah paling utara, dan sering dijuluki “Ice City”. Suhu bisa turun sampai minus 30 derajat, tapi justru itulah yang bikin Harbin jadi dest... selengkapnya
Kebiasaan yang Dilarang di Tanah Suci, Calon Jamaah Harus Berhati-hati
Lain ladang, lain belalang, lain tempat lain budaya dan aturan kebiasaan suatu tempat atau negara. Saat ini, masih banyak jamaah haji Indonesia yang lupa bahwa ada kebiasaan dan aturan yang berlaku di tanah suci. Berikut penjelasan Kebiasaan yang Dilarang di Tanah Suci, Calon Jamaah Harus Berhati-hati. Misalnya salah satu jamaah asal Bekasi Jawa Barat... selengkapnya
Sejarah PAFI di Indonesia
Sejarah PAFI di Indonesia Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) merupakan organisasi profesi tertua di Indonesia yang menaungi tenaga teknis kefarmasian. Didirikan di Yogyakarta 78 tahun silam, PAFI berperan penting dalam pengembangan dan pengawasan praktik kefarmasian di Indonesia. Latar Belakang Pendirian PAFI di Indonesia Pendirian PAFI tidak lepas dari... selengkapnya
Kontak Kami
Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.
-
Hotline
+6281125510010 -
Whatsapp
6281125510010 -
Email
dreamholidays.co.id@gmail.com



Belum ada komentar