Beranda » Religi » Haji » Larangan Berburu di Tanah Haram
Larangan Berburu di Tanah Haram

Photo by Alex Andrews: https://www.pexels.com/photo/black-rifle-with-scope-and-brown-gig-bag-864987/

Dalam melakukan ibadah haji dan umrah, calon jamaah wajib mematuhi aturan-aturan dan batas-batasan yang wajib dipenuhi. Ketika beribadah di Tanah Suci, ada peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar batasan-batasannya. Prof Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar menguraikan larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar oleh jamaah diantaranya adalah larangan berburu di tanah haram. Berburu dilarang di wilayah tanah haram apalagi ketika dalam keadaan ihram, baik haji maupun umrah. 

Binatang yang dilarang diburu

Binatang yang dilarang diburu ialah binatang liar yang telah ditentukan, seperti kambing hutan, rusa, kijang dan ayam hutan selama ia masih di wilayah taman haram. Wilayah ini dikenal dengan Kota Rasulullah, yaitu kota Madinatul Munawwarah, juga sebagai tanah haram.

 

Menurut hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas Bin Malik, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa kota Madinah itu pun menjadi tanah haram. Dari Anas ra. dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata bahwasannya “Madinah adalah Tanah Haram, dari batas sana ke batas sana. Pohonnya tidak boleh dipotong dan tidak boleh diperbuat pekerjaan apa-apa di sana. Barangsiapa yang berbuat, maka ke atasnya akan menimpa kutuk Allah dan Kutuk Malaikat, serta kutuk manusia sekalipun.”

Pendapat Ahli

Prof Buya Hamka menjelaskan, pekerjaan yang dimaksud adalah berburu binatang buruan. Sesuai dengan surat Al-Maidah ayat 1 bahwa “Sesungguhnya Allah menghukumkan apa yang dia kehendaki.” Yaitu Allah sendirilah yang menentukan bahwa menurut kehendak Allah mengharamkan. 

 

“Mana yang Allah pandang patut diharamkan dan menghalalkan mana yang dipandang-Nya patut dihalalkan. Sebab dialah sumber hukum yang mutlak tidak boleh dibantah lagi,” katanya. Sesuai dengan ayat yaitu bahwa orang yang mukmin telah terikat janji dengan Allah yaitu akan patuh menuruti perintah, maka tidak ada jalan lain bagi seorang mukmin hanyalah menerima benih segala ketentuan hukum itu. Dan percaya bila Allah mengadakan suatu peraturan halal atau haram, percayalah bahwa yang dihalalkan Allah adalah barang yang baik. 

 

“Dan bila Allah mengharamkan percayalah bahwa yang dia haramkan itu pastilah yang buruk, keji, dan najis. Baik mengenai jasmani maupun rohani,” katanya. 

 

Paket Umrah Murah Andalus Travel Batu Malang, Konsultasi dan pendaftaran kunjungi Andalus Travel Batu Malang.

 

Hal ini ada dijelaskan Allah di dalam surat 7, al-a’raf ayat 157. Bahkan didalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa penentuan halal dan haram selalu ada sangkut-pautnya dengan pembebasan jiwa dari ikatan yang selain Allah. 

 

“Supaya langsung berhubungan dengan Allah dan bebas dari belenggu perbudakan lahir dan batin,” katanya. 

Di dalam surat itu pun kata Prof Hamka dijelaskan bahwa penentuan menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang keji. Bukan saja menjadi isi Alquran, bahkan menjadi isi daripada taurat dan injil. 

 

Sumber:

Hafil, Muhammad. 2021. Larangan Berburu di Tanah Haram. https://ihram.republika.co.id/berita/qxkbc7430/larangan-berburu-di-tanah-haram, diakses pada 22 Agustus 2022 pukul 08.54.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.