Larangan di Tanah Haram

5 September 2022 49x Haji, Religi, Umrah

Beranda » Religi » Haji » Larangan di Tanah Haram

Sejarah Makkah

Makkah merupakan salah satu tempat ibadah haji dan umroh. Makkah didirikan oleh Nabi Ismail AS bersama ibundanya Hajar. Awalnya hanyalah padang pasir yang gersang, kemudian menjadi ramai setelah adanya sumur zamzam yang keluar untuk menolong Nabi Ismail dan ibunya Hajar dari kehausan setelah setelah kebingungan mencari air ke sana ke mari.

 

Kondisi semakin ramai sejak adanya sumur ini, orang-orang mulai berdatangan untuk mengambil air sebagai bekal. Lambat laun semakin banyak orang yang menetap di sana, hingga jadilah ia sebuah kota. Makkah merupakan tanah haram mengambil segala sesuatu yang hidup secara alami, misalnya hewan liar dan lain-lain. Keharaman ini terungkap dalam sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini,

 

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menghalangi tentara bergajah memasuki Makkah. Allah menaklukkannya untuk Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dan sesungguhnya tidak dihalalkan bagi orang sebelumku untuk menyerang Makkah. Ia hanya dihalalkan bagi orang sebelumku untuk menyerang Makkah. Ia hanya dihalalkan untukku menyerbunya pada satu saat di siang hari dan tidak akan dihalalkan lagi setelahku. Maka jangan ada yang mengusir hewan buruan yang ada di dalamnya, tak boleh mencabut rumputnya, dan barang yang tercecer pun tak boleh dipungut, kecuali bagi yang ingin mempertemukannya dengan pemiliknya. Dan siapa yang keluarganya mati dibunuh maka mereka mendapatkan dua pilihan, menerima denda (100 ekor unta) atau qishash.”

 

Paket Umrah Murah Andalus Travel Batu Malang, Konsultasi dan pendaftaran kunjungi Andalus Travel Batu Malang.

 

Abbas ra menyela, “Kecuali idzkhir ya Rasulullah, kami biasa mengambilnya untuk ditanam di rumah.” Rasulullah merespon, “Ya kecuali idzkhir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan di Tanah Haram

Batasan yang berlaku untuk larangan Rasulullah SAW diatas meliputi kawasan-kawasan berikut:

  • Arah barat, jalan Jeddah–Mekah, di Asy-Syumaisi (Hudaibiyyah), yang berjarak 22 km dari Ka’bah.
  • Arah selatan di Idha’ah Liben (nama sebuah bukit), jalan Yaman–Mekah untuk yang datang dari Tihamah berjarak 12 km dari Ka’bah.
  • Arah timur di tepi lembah ‘Uranah barat yang berjarak 15 km dari Ka’bah.
  • Arah timur laut jalan Ji’ranah dekat kampung Syara’i Al Mujahidin, 16 km dari Ka’bah
  • Arah utara batasnya adalah Tan’im, 7 km dari Ka’bah.

 

Sumber:

https://www.ihram.asia/wawasan/larangan-rasulullah-di-tanah-haram-mekah

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.