Beranda » Religi » Haji » Tips Berbuka Puasa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Tips berbukaBagi sebagian orang, menunaikan ibadah umrah pada saat bulan Ramadhan merupakan sesuatu hal yang istimewa. Bagaimana tidak, dibulan yang penuh berkah melimpah, kita bisa merasakan langsung suasana Ramadhan di Kota Rasulullah. Di hari biasa saja banyak umat muslim yang ingin beribadah ke Tanah Suci, apalagi bulan Ramadhan, semua akan berlomba untuk bisa beribadah di Kota ini. Agar umrah tetap lancar, tentu dibutuhkan beberapa tips berbuka khususnya ketika berbuka puasa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ketika umrah pada saat bulan Ramadhan. 

Suasana Berbuka di Masjidil Haram

Masjidil Haram di Kota Makkah adalah salah satu tempat paling ramai ketika bulan Ramadhan tiba. Seluruh umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat ini. Salah satu tujuannya adalah bisa beribadah dengan fokus dan mendapat pahala yang berkali-kali lipat. 

Ketika Ramadhan, semua toko makanan tutup dan baru buka menjelang buka puasa. Pada saat adzan berkumandang, semua orang berlomba-lomba datang ke masjid untuk ibadah shalat maghrib. Toko-toko pun kembali tutup dan buka setelah shalat selesai.

Jangan khawatir, berpuasa di Tanah Suci akan sangat terjamin. Karena, setiap harinya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menyediakan banyak takjil bagi para jamaah yang berpuasa. Belum lagi, masyarakat disana yang sangat senang berbagi. Semua orang berlomba untuk memberikan hidangan bagi orang-orang yang berpuasa.

Jika kalian baru pertama merasakan berpuasa di Tanah Suci, mungkin kalian harus mencoba berbuka puasa di Masjidil Haram. Sensasi berbuka puasa di sini sangatlah menyenangkan dan bisa menjadi pengalaman tak terlupakan bagi kalian. Bagaimana tidak, semua orang dari seluruh penjuru dunia berkumpul jadi satu untuk berbuka puasa. 

1. Datang lebih awal

Banyak sekali orang yang ingin berbuka puasa dan menunaikan shalat di Masjidil Haram, usahakan untuk datang lebih awal. Paling tidak 1,5 jam sebelum adzan maghrib. Karena kawasan masjid akan dipenuhi oleh para jamaah yang ingin berbuka di sana. Jika sudah penuh, maka pintu akan ditutup dan harapan masuk ke dalam masjid pun sirna sudah.

2. Sudah berwudhu saat akan memasuki masjid

Karena tempat berwudhu ada di luar masjid, maka usahakan kalian sudah berwudhu sebelum memasuki masjid, ya. Jika sudah keluar masjid, ada kemungkinan kalian tidak dapat masuk lagi. Biasanya karena sudah penuh dengan jamaah.

3. Membawa bekal dan botol minum sendiri

Walaupun sudah disediakan oleh pihak masjid, akan lebih baik jika kalian membawa bekal sendiri. Agar bisa langsung berbuka saat adzan sudah tiba. Karena biasanya, tempat untuk minum akan dipenuhi oleh orang-orang yang hendak berbuka juga.

4. Mencari tempat yang nyaman

Jika kalian berada di dalam masjid, pastikan tempat yang kalian pilih nyaman untuk shalat. Selain itu, jika tak ingin pusing mencari jalan keluar masjid, pilihlah tempat sholat dekat jalur masuk. 

Suasana Berbuka di Masjid Nabawi

Tidak jauh beda pemandangan bulan Ramadhan di Masjidil Haram, Mekkah, keindahan serupa juga terlihat jelas di Masjid Nabawi Madinah. Orang kaya di Madinah dan Makkah, Arab Saudi, menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan bersedekah. Mereka menyiapkan makanan berbuka bagi para jamaah di Masjidil Haram, Mekkah, dan juga di Masjid Nabawi, Madinah.

Para orang dermawan ini biasanya menugaskan beberapa orang atau petugas yang membantu merapikan tempat dan memberi makan kepada para jamaah dengan menggelar makanan berbuka di area masjid. Makanan yang disajikan beragam, mulai dari kurma, yoghurt, roti, air zam-zam, kopi, dan teh. Semua orang yang ada dalam Masjid Nabawi tersebut mendapat makanan dan minuman berbuka, tanpa terkecuali. Berbagai jemaah dari seluruh belahan dunia dan berbagai latar belakang berbaur dan menikmati hidangan berbuka yang disajikan.

Waktu berbuka di Madinah adalah sekitar jam 7 malam waktu setempat. Ketika semua orang sudah selesai menyantap hidangan berbuka, setiap petugas dengan sigap membereskan dan membersihkan sisanya. Kondisi kembali bersih dengan seketika. Subhanallah ya.

Seorang WNI, Hadi Djuraid, berbagi pengalamannya berbuka puasa di Madinah dan Mekkah. Bagi Hadi, pengalaman berbuka puasa di Tanah Suci ini sungguh mengharukan, memberi banyak pelajaran dan pengetahuan. Berdasarkan pernyataan beliau, bukan hanya di Madinah dan Mekkah, di kota lain di Arab Saudi, orang kaya di negeri itu menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan bersedekah, terutama saat berbuka puasa.

Berbeda dengan waktu puasa di Indonesia yang sekitar 13 jam, di Madinah lebih lama sekitar 3 jam. Waktu maghrib di Madinah yaitu sekitar pukul 19.05 Waktu Saudi. Adapun waktu subuh di Madinah sekitar pukul 04.08. Dengan demikian, puasa di Madinah 16 jam atau sekitar tiga jam lebih lama daripada waktu Indonesia.

Menu Berbuka Puasa di Masjid Nabawi

Takjil yang dibagikan di Masjid Nabawi sangatlah khas. Sama dengan takjil di masjid besar lain di Madinah, seperti Masjid Quba. Bahkan menu takjil ini jadi rujukan banyak masjid besar di seluruh dunia. Apalagi buat kamu yang merindukan berbuka puasa di Masjid Nabawi. Berikut menu-menu unik takjilnya.

  • Air zam-zam

Air zam-zam sudah menjadi suguhan yang wajib ada saat bulan Ramadhan di Madinah. Biasanya air ini disajikan oleh petugas dalam bentuk gelas kertas atau botol plastik yang disediakan sekitar lebih dari 20 ribu galon.

  • Kurma dan kopi Arab

Madinah terkenal dengan kebun kurmanya yang subur dan beraneka ragam. Ada ribuan jenis kurma, tetapi yang paling terkenal adalah kurma ajwa dan ruthob atau kurma muda yang manis. Kurma paling enak dihidangkan bersama kopi Arab (qahwa) yang kaya rempah. Ada pula teh kurma dan teh hijau hangat yang bisa dijadikan opsi untuk menu berbuka puasa. Minuman ini bisa langsung memulihkan stamina dan menghangatkan badan setelah berpuasa seharian.

  • Laban dan roti tamis

Mungkin banyak orang Indonesia yang masih awam dengan makanan khas Arab. Laban adalah yogurt Arab yang terbuat dari susu sapi atau domba yang difermentasi. Cara mengkonsumsinya adalah dicocol dengan roti tamis khas Arab dan buah pisang. Walaupun hanya makan ini, rasanya cukup mengenyangkan. Energi sudah tercukupi untuk melanjutkan ibadah hingga shalat Tarawih.

  • Sambusa

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar sambosa yang merupakan cemilan berisi campuran daging, keju, atau kacang-kacangan Arab. Rasa sambosa asli Madinah akan sedikit berbeda dengan yang kita rasakan di Indonesia.

  • Duqqah

Duqqah atau dukkah adalah kacang-kacangan, biji-bijian, dan rempah-rempah khas Arab yang ditumbuk jadi satu. Penuh dengan nutrisi dan manfaat kesehatan. Sekilas mirip bumbu pecel, tetapi rasanya jauh berbeda. Terkadang, panitia penyelenggara berbuka di Madinah menyajikan duqqah bersama dengan laban dan roti agar berbuka terasa jadi semakin nikmat.

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.